OKU SELATAN, 04 Oktober 2026
Warga Desa Tanjung Jaya, Dusun 8, Kecamatan Buay Pemaca, Kabupaten OKU Selatan, menyuarakan keprihatinan sekaligus keraguan mendalam atas pelaksanaan pembangunan jalan yang sedang berlangsung di wilayah mereka. Pembangunan yang seharusnya membawa kesejahteraan justru memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, konstruksi jalan yang dikerjakan terlihat tidak menggunakan campuran batu split pada adukan betonnya. Kualitas adukan yang didominasi pasir dan semen saja dinilai warga tidak akan kuat menahan beban kendaraan, sehingga dikhawatirkan cepat retak, mengelupas, dan rusak sebelum waktunya.
Belum lagi, hingga saat ini tidak ditemukan papan proyek yang dipasang di lokasi pembangunan. Warga tidak mengetahui siapa pelaksana pekerjaan, nilai anggaran yang digunakan, spesifikasi teknis, serta target selesai proyek. Ketidak jelasan ini memicu dugaan adanya ketidak terbukaan dalam pelaksanaan pembangunan yang seharusnya dikelola secara transparan.
“Saya perhatikan sejak awal pengerjaan, beton yang dituang ke permukaan jalan hanya dicampur pasir dan koral, semen. Tidak ada batu split sama sekali. Kalau begini caranya, berapa lama jalan ini bisa bertahan? Begitu hujan dan dilewati kendaraan, pasti akan hancur dengan cepat,” ungkap salah satu warga yang memantau langsung proses pengerjaan.
Warga berharap pembangunan jalan ini bukan sekadar tampak bagus di permukaan, melainkan kokoh dan awet untuk jangka panjang. Jalan adalah aset milik bersama, dan kualitasnya harus dipertanggung jawabkan.
Hal lain yang turut mengundang keraguan adalah ketiadaan papan identitas proyek. Masyarakat berhak mengetahui:
- Siapa pelaksana pekerjaan ini?
- Berapa anggaran yang dialokasikan?
- Standar kualitas apa yang dipakai?
- Kapan pekerjaan ini selesai?
- Apakah bersumber dari Dana Desa atau APBD Kabupaten?
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh kepastian mengenai sumber anggaran yang digunakan. Pihak terkait belum memberikan keterangan resmi apakah pembangunan ini dibiayai melalui skema Dana Desa maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Ketidak pastian inilah yang semakin mempertegas keraguan warga.
“Kami tidak menolak pembangunan, justru kami sangat mendukung. Namun pembangunan harus jelas, terbuka, dan dapat dipertanggung jawabkan. Jangan sampai uang yang diperuntukkan kepentingan warga justru dikerjakan dengan kualitas yang dipertanyakan,” tegas warga lainnya.
Pengerjaan jalan masih berlangsung hingga saat ini. Warga berharap pihak berwenang — baik Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, maupun instansi terkait — segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan kualitas material, memastikan papan proyek dipasang sesuai ketentuan, serta mengumumkan secara terbuka sumber dana yang digunakan.
Pembangunan bukan sekadar menyelesaikan fisik jalan, melainkan membangun kepercayaan. Warga menanti jawaban yang jelas, tindakan yang tegas, serta kualitas yang nyata di lapangan. Karena bagi mereka, jalan yang kokoh adalah cermin tata kelola yang kokoh pula.
Penulis: Romy Batara 94













Leave a Reply