Kab bandung barat
Musim kemarau mulai memberikan tekanan terhadap ketersediaan air di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Kondisi tersebut mendorong ratusan warga bersama pemerintah kecamatan menggelar salat istisqa dan doa bersama, Kamis (17/9/2026).

Salat istisqa dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar masyarakat untuk memohon turunnya hujan. Selain persoalan air, warga juga dihadapkan pada meningkatnya ancaman kebakaran akibat kondisi lingkungan yang semakin kering.
Camat Padalarang Hendi Setiyadi, S.STP., M.Si., mengatakan antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan tersebut cukup tinggi. Menurutnya, doa bersama menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian dan kebersamaan masyarakat dalam menghadapi dampak kemarau.
“Alhamdulillah, pelaksanaan salat istisqa di Kecamatan Padalarang berjalan dengan baik dan dihadiri ratusan warga. Kita bersama-sama memohon agar segera diberikan hujan yang membawa keberkahan, manfaat dan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat,” ujar Hendi.
Kebutuhan Air Mulai Meningkat
Di tengah kemarau, persoalan ketersediaan air mulai mendapat perhatian pemerintah kecamatan. Berdasarkan pemantauan sementara, kawasan perkotaan Desa Padalarang menjadi wilayah yang paling membutuhkan perhatian terkait pasokan air.
Adapun di sejumlah desa lainnya, laporan mengenai kekurangan air sudah mulai muncul, namun belum terjadi secara luas dan masih ditemukan pada lokasi-lokasi tertentu.
“Untuk kebutuhan pasokan yang paling terasa saat ini berada di kawasan perkotaan Desa Padalarang. Sedangkan desa lainnya memang ada laporan, tetapi masih terbatas di beberapa titik,” jelasnya.
Pemerintah kecamatan meminta masyarakat tidak mengabaikan kondisi tersebut. Penggunaan air secara hemat dinilai penting untuk menjaga persediaan selama musim kemarau belum berakhir.
Ancaman Kebakaran Mengintai
Kondisi kering juga membawa persoalan lain. Potensi kebakaran meningkat seiring menurunnya kelembapan tanah dan tanaman.
Hendi mengungkapkan, lebih dari 10 kejadian kebakaran telah tercatat di wilayah Padalarang. Sejumlah kejadian berdasarkan penelusuran di lapangan berkaitan dengan aktivitas manusia.
“Penyebabnya antara lain puntung rokok yang dibuang sembarangan, pembakaran sampah yang tidak dipastikan benar-benar padam, serta kondisi tanaman dan tanah yang sangat kering sehingga api cepat menjalar,” ungkapnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh sumber api, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merambat ke area lain.
Kepala Desa Diminta Perkuat Imbauan
Untuk menekan risiko kekeringan dan kebakaran, pihak Kecamatan Padalarang meminta seluruh kepala desa aktif mengingatkan masyarakat.
Warga diminta mengurangi penggunaan air yang tidak diperlukan, tidak membakar sampah sembarangan, serta memastikan tidak ada sumber api yang ditinggalkan dalam kondisi masih menyala.
“Lingkungan kita sekarang sangat kering dan rawan. Karena itu, mari saling mengingatkan, hemat air dan jangan memberikan kesempatan sekecil apa pun bagi api untuk muncul,” tegas Hendi.
Pemerintah Kecamatan Padalarang akan terus memantau perkembangan kondisi di setiap wilayah. Di sisi lain, masyarakat diharapkan ikut mengambil peran dengan meningkatkan kewaspadaan dan menjaga lingkungan.
Salat istisqa yang digelar bersama menjadi salah satu ikhtiar warga di tengah kemarau. Namun, langkah pencegahan tetap diperlukan agar persoalan kekurangan air maupun ancaman kebakaran tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Dudy














Leave a Reply