EternityNews

AKTUAL FAKTUAL EDUKATIF

Listrik Byar-Pet Mencekik Warga, PLN OKU Selatan Dihujat: “Tak Ada Angin, Tak Ada Hujan, Tiba-Tiba Padam

MUARADUA, 22/05/2026

Kesabaran warga OKU Selatan habis. Pemadaman listrik tanpa aba-aba kembali jadi hantu yang mencekik aktivitas harian. Puncaknya, keluhan keras meledak di media sosial.

Akun Facebook SUARA OKU SELATAN NOW memposting kalimat yang menohok, kamis 21/5/2026_”PATOK NIAN PLN OKU SELATAN NI. KATIK ANGIN KATIK UJAN NAK MATI TU LAH GAWE.”_ Artinya: Parah benar PLN OKU Selatan ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba mati saja kerjaannya.

Postingan Marta Dianta itu langsung disambar warga. Dalam 1 jam, 34 reaksi dan 26 komentar membanjiri. Isinya campur aduk antara geram, pasrah, dan sindiran pedas.

Akun Edi Ndut RAfa menulis, “Sabar pak, ini ujian”. Disambut Ilham Ham dengan kalimat serupa, “Sabar bosku”. Namun nada pasrah itu ditimpa amarah warga lain.

Sambol Caluk tegas menohok: “Tampa izin Tampa pembri tahuan sesuka nya miti lampu”. Resdiliansi Bengkel Las ikut menyindir dengan bahasa lokal: “uy ngpe ncangke mang”, menandakan kejengkelan pelaku usaha yang kerjanya mati gara-gara listrik padam.

Sementara Ivan Saputra hanya bisa menimpali singkat, “Itu lahh..” sebagai bentuk kecewa yang sudah kehabisan kata. Di sisi lain, Halil Ajo masih coba menengahi: “Sabar kawan, klou mt lampu kasih tau d mno lokasi,talang,desa,atau kecamatan,biar pihak PLN langsung membenahi……!!”

Komentar-komentar itu jadi potret nyata: warga sudah lelah. Listrik padam seenaknya, tanpa peringatan, tanpa alasan jelas. Usaha warga rugi, anak sekolah terganggu, alat elektronik rusak.

“Ini bukan sekali dua kali. Sudah jadi langganan. Tagihan lancar, pelayanan amblas,” tulis salah satu warganet, di kolom komentar.

Pemadaman mendadak ini bukan sekadar mematikan lampu. Ia mematikan produktivitas. Warung kopi gulung tikar lebih cepat, tukang las berhenti kerja, UMKM rumahan menjerit. Kerugian ekonomi senyap terus berjalan setiap kali saklar PLN “off” tanpa sebab.

Ironis. Di tengah gembar-gembor transformasi digital dan program listrik masuk desa, kualitas layanan di Bumi Serasan Seandanan justru compang-camping. Cuaca cerah bukan jaminan lampu menyala. Warga menyebutnya “mati gaya PLN”.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PLN ULP Muaradua belum memberi keterangan resmi. Upaya konfirmasi masih dilakukan. Publik menunggu jawaban: Ini gangguan teknis, kelalaian, atau memang infrastruktur PLN OKU Selatan sudah sekarat?

Warga menuntut tegas: Pertama, hentikan pemadaman sepihak tanpa pemberitahuan. Kedua, transparan soal penyebab dan jadwal pemeliharaan. Ketiga, ganti rugi jika ada kerusakan akibat voltase tak stabil.

Listrik adalah hak dasar. Ketika hak itu dirampas paksa oleh byar-pet, wajar jika warga berteriak. PLN OKU Selatan harus ingat: mereka dibayar untuk menerangi, bukan membuat gelap.

Romy Batara 94

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *