LAMPUNG SELATAN – Di balik potensi panas bumi sebagai sumber energi terbarukan, terdapat sejumlah persoalan lingkungan yang dinilai perlu dikaji secara terbuka dan mendalam.
Hal itu menjadi perhatian Forum Masyarakat Adat Segekhi Suku dalam audiensi terkait pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.
Forum meminta agar pembahasan tidak berhenti pada narasi mengenai manfaat energi dan ekonomi. Menurut mereka, aspek lingkungan, keselamatan masyarakat, sumber air, kestabilan tanah serta kondisi kawasan Gunung Rajabasa harus menjadi bagian utama dalam setiap kajian dan pengambilan keputusan.
EMISI GAS JADI PERHATIAN
Salah satu persoalan yang disoroti adalah potensi keberadaan Non-Condensable Gas (NCG) dalam kegiatan panas bumi.
Gas yang dapat terdapat dalam fluida panas bumi antara lain hidrogen sulfida atau H₂S, karbon dioksida atau CO₂, amonia dan komponen gas lainnya dalam konsentrasi tertentu.
Forum Segekhi Suku menilai, meskipun sejumlah gas tersebut juga dapat ditemukan secara alami pada manifestasi panas bumi, pengelolaan emisi tetap harus menjadi perhatian serius apabila kegiatan pengembangan dilakukan.
Yang dipertanyakan bukan hanya keberadaan gas, tetapi juga bagaimana pemantauan, pengukuran, pengendalian dan mitigasi dilakukan apabila kegiatan berlangsung.
BUKAN HANYA SOAL GAS
Sorotan forum tidak berhenti pada emisi.
Perubahan bentang alam akibat pembangunan akses, jalur pipa, lokasi pengeboran dan fasilitas pendukung juga dinilai perlu mendapatkan perhatian.
Aktivitas drilling berpotensi menimbulkan kebisingan selama proses pekerjaan. Karena itu, menurut forum, diperlukan pengaturan dan pengawasan agar aktivitas tersebut tidak menimbulkan gangguan yang merugikan masyarakat maupun lingkungan sekitar.
PEMBUKAAN LAHAN DAN LERENG RAJABASA
Persoalan pembukaan lahan menjadi isu lain yang dianggap penting.
Forum menyoroti karakteristik kawasan Gunung Rajabasa yang memiliki kondisi topografi dan kemiringan lereng tertentu.
Pembukaan lahan yang tidak dilakukan dengan perencanaan matang, menurut forum, berpotensi meningkatkan erosi dan risiko longsor, terutama apabila tidak memperhatikan stabilitas tanah, sistem drainase serta tata air kawasan.
Karena itu, kajian teknis dan lingkungan dinilai harus mampu menjawab secara konkret bagaimana potensi tersebut akan dicegah dan dikendalikan.
“JANGAN HANYA MELIHAT MANFAAT EKONOMI”
Ketua Forum Masyarakat Adat Segekhi Suku, Pangeran Pukuk Sabuay Nimbau, menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan penjelasan yang utuh mengenai manfaat sekaligus risiko kegiatan panas bumi.
«“Karena itu, kami meminta agar seluruh potensi dampak tersebut dikaji secara serius. Jangan hanya melihat dari sisi energi dan manfaat ekonominya, tetapi juga harus melihat kondisi lingkungan, sumber air, kestabilan tanah dan kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Rajabasa.”»
Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya mendapatkan informasi mengenai sisi positif pembangunan, sementara potensi risikonya tidak dijelaskan secara terbuka.
TRANSPARANSI JADI KUNCI
Pangeran Pukuk Sabuay Nimbau menegaskan bahwa masyarakat adat menginginkan proses yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
«“Kami ingin semuanya transparan. Kalau memang ada manfaatnya, sampaikan kepada masyarakat. Tetapi potensi risikonya juga harus dijelaskan secara terbuka, sehingga masyarakat tidak hanya menerima informasi tentang manfaat, tetapi juga memahami tantangan dan dampak yang mungkin muncul.”»
Forum menilai seluruh kegiatan harus didasarkan pada kajian ilmiah, memenuhi ketentuan lingkungan yang berlaku, serta memiliki sistem pengawasan dan mitigasi risiko yang jelas.
PERTANYAAN BESARNYA: SIAPA YANG MENGAWASI?
Pada akhirnya, persoalan yang ingin didorong Forum Segekhi Suku bukan sekadar mengenai ada atau tidaknya manfaat panas bumi.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: seberapa kuat sistem pengawasan lingkungan disiapkan, bagaimana risiko dikelola, dan sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam proses tersebut?
Sebab, ketika kegiatan menyentuh kawasan Gunung Rajabasa, pembahasan mengenai energi tidak dapat dipisahkan dari persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.
Gunung Rajabasa bukan sekadar kawasan sumber energi. Ia juga merupakan ruang hidup yang memiliki nilai lingkungan dan sosial bagi masyarakat.
Karena itu, menurut Forum Masyarakat Adat Segekhi Suku, setiap rencana pengembangan harus diuji secara terbuka, ilmiah dan transparan agar manfaat yang dijanjikan tidak mengabaikan potensi risiko yang harus ditanggung masyarakat.
(Syah)














Leave a Reply