Lampung Selatan,Eternitynews.id-Warga Desa Rangai Tritunggal, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan digegerkan dengan penemuan sesosok mayat anonim yang tergeletak di pinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Jumat pagi (22/5/2026). Kondisi jenazah yang dibungkus plastik dan ditutupi kardus memunculkan dugaan kuat bahwa korban sengaja ditinggalkan.
Penemuan mayat tersebut sontak mengundang perhatian warga sekitar. Dalam video amatir yang beredar, tampak tubuh pria kurus kering terbaring di tepi jalan nasional dengan kondisi mengenaskan. Tulang pipi terlihat menonjol, mata cekung, dan tubuh tampak seperti seseorang yang lama menderita sakit berat.
Warga yang melintas langsung berhenti dan berkerumun di lokasi. Sebagian merekam kejadian menggunakan telepon genggam karena penasaran dengan identitas korban dan alasan jasad itu bisa berada di lokasi terbuka.
Namun yang paling mengiris hati, ditemukan secarik kertas di dekat jenazah. Tulisan dalam kertas tersebut diduga merupakan pesan dari pihak keluarga korban yang mengaku tidak mampu memakamkan anaknya secara layak akibat keterbatasan ekonomi dan hidup terlunta-lantung di Lampung.
“Assalamualaikum bagi yang menemui mayat anak saya meninggal dikarenakan penyakit diabet. Kami sebagai orang tua tidak bisa memakamkannya secara layak karena kami baru tiga hari di Kota Lampung dan kami terlontang-lantung tidak ada tempat tinggal,” bunyi isi surat tersebut.
Isi pesan itu memunculkan tanda tanya besar sekaligus keprihatinan mendalam. Jika benar ditulis oleh keluarga korban, maka peristiwa ini bukan sekadar penemuan mayat anonim, melainkan potret tragis kemiskinan ekstrem yang berujung pada hilangnya martabat manusia bahkan setelah meninggal dunia.
Kapolsek Katibung, Dita Hidayatullah membenarkan adanya penemuan mayat tanpa identitas tersebut di wilayah Desa Rangai Tritunggal.
“Ya, mayat anonim,” ujar Kapolsek singkat saat dikonfirmasi, Sabtu (23/5/2026).
Usai menerima laporan warga, aparat kepolisian langsung menuju lokasi dan mengevakuasi jenazah ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan autopsi guna memastikan penyebab kematian.
Hasil pemeriksaan sementara tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Polisi menduga korban meninggal akibat penyakit yang telah lama diderita.
“Dari hasil autopsi tidak ditemukan bekas luka benda tumpul, namun di bagian punggung sudah membusuk diduga karena terlalu lama berbaring akibat sakit,” jelas Kapolsek.
Karena hingga proses autopsi selesai tidak ada pihak keluarga yang datang ataupun berhasil diidentifikasi, akhirnya jenazah dimakamkan oleh aparat dan warga setempat di Tempat Pemakaman Umum Desa Rangai Tritunggal.
Kasus ini kini menyisakan banyak pertanyaan. Apakahb keluarga korban benar-benar tidak memiliki biaya untuk pemakaman? Mengapa jenazah ditinggalkan di pinggir jalan? Apakah ada unsur kelalaian sosial hingga seseorang yang sakit parah terlantar tanpa bantuan?
Peristiwa memilukan ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Di tengah berbagai program bantuan sosial dan layanan kesehatan yang terus digembar-gemborkan, masih ada warga yang diduga hidup tanpa tempat tinggal, tanpa akses pengobatan memadai, bahkan tidak mampu mengurus pemakaman anggota keluarganya sendiri.
Tragedi di Katibung bukan hanya soal penemuan mayat anonim, tetapi juga gambaran nyata tentang sisi gelap kemiskinan dan keterasingan sosial yang masih terjadi di tengah masyarakat.
(Syahrim







Leave a Reply