BUAY PEMACA, OKU SELATAN 28/06/2026
Lupakan seremonial gunting pita. Lupakan pidato di atas panggung.
Hari itu, di Dusun 9 Desa Sinar Baru, Kepala Desa Ibu Tri Wahyuningsih memilih cara lain: turun gunung. Baju olahraga kuning-hitam, topi putih, berdiri di tengah debu dan semen. Tangan warga yang lain mengaduk. Tangan Kades yang lain menunjuk dan memberi arah.

Itulah potret “Gotong Royong Swadaya Murni” yang bikin netizen harusnya malu.
Latar belakangnya bukit kopi Buay Pemaca. Di depannya jalan tanah yang kalau hujan jadi kubangan. Di tengahnya, puluhan warga Dusun 9. Tidak ada kontraktor. Tidak ada truk proyek. Yang ada hanya ember, sekop, batu, dan semangat.

Dan di barisan paling depan: seorang perempuan. Kepala Desa Sinar Baru.
Ibu Tri tidak cuma datang foto foto 5 menit lalu pulang. Beliau berdiri lama. Mengawasi. Menyemangati. Basah keringat bersama warga.
“Selama ini kita teriak minta jalan. Tapi kalau kita nunggu terus, anak-anak kita yang terpeleset duluan,” kata Ibu Tri, nadanya tegas tapi bergetar.
“Pemimpin itu harus jadi pelopor, bukan penonton di balik meja AC. Kalau Kades saja berani kotor, warga pasti ikut. Titik.”
Kalimat itu. Satu kalimat itu saja, cukup untuk menampar semua kepala desa yang kerjanya cuma tanda tangan.
Dusun 9 ini pelosok. Petani kopi. Jalan rusak = hasil panen busuk di jalan.
Mereka tidak punya waktu menunggu APBD. Maka mereka pilih jalan ninja: Swadaya Murni.
Uang patungan. Tenaga patungan. Pikiran patungan. Hasilnya: jalan yang tadinya “kubangan maut” mulai bisa dilewati.
- Proyek: Nihil.
- Anggaran: Rp0 dari luar.
- Hasil: Jalan mulai layak pakai.
- Pemimpin: Turun lapangan.
Pertanyaannya: Desa lain yang dananya puluhan M, hasilnya di mana?
Dari Dusun 9, Ibu Tri mengirim pesan ke seluruh Indonesia:
“Pembangunan itu bukan soal berapa Miliar yang cair. Tapi soal berapa keringat yang mau kau tumpahkan untuk rakyatmu.”
Hari itu, semen di tangan Ibu Kades lebih mahal dari aspal miliaran. Karena di dalamnya ada hati.
Romy Batara 94














Leave a Reply