Lampung Selatan Palas-Eternitynews.id Di tengah gencarnya gaung program ketahanan pangan nasional, realitas pahit justru tersaji di Dusun 1 Sukaraja, Desa Sukaraja, Kecamatan Palas. Para petani di wilayah ini dipaksa mandiri menghadapi persoalan mendasar: akses jalan menuju lahan produktif yang tak kunjung mendapat perhatian serius.22/4/2026.
Bukan tanpa usaha, bukan tanpa pengajuan. Selama bertahun-tahun, harapan itu disampaikan melalui jalur resmi. Namun jawaban yang diterima justru bersifat administratif—bahwa akses tersebut bukan prioritas karena tidak termasuk jalan pemukiman warga. Padahal di balik jalan itu, terbentang sekitar 200 hektare lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan sekaligus penopang pangan daerah.
Kondisi ini melahirkan ironi. Ketika ketahanan pangan dijadikan jargon pembangunan, petani Sukaraja justru harus bertaruh dengan keselamatan setiap kali musim panen tiba. Jembatan bambu yang menjadi satu-satunya akses kerap hanyut diterjang banjir, memaksa petani memperbaikinya berulang kali hanya untuk memastikan hasil panen bisa keluar dari lahan.
“Kalau banjir, bisa sampai dua kali hanyut. Mau tidak mau kami bangun lagi,” ungkap Eko, salah satu petani, menggambarkan siklus kelelahan yang terus berulang setiap musim hujan.
Namun dari keterbatasan itulah lahir kekuatan. Selama tiga tahun terakhir, para petani secara konsisten menyisihkan sebagian hasil panen mereka. Uang demi uang dikumpulkan hingga mencapai Rp50 juta—angka yang bagi mereka bukan sekadar nominal, melainkan simbol tekad dan harga diri.
Dengan semangat gotong royong, pembangunan jembatan swadaya pun mulai dilakukan secara bertahap. Meski dana yang terkumpul masih jauh dari cukup untuk membangun jembatan permanen yang layak, langkah ini menjadi bukti nyata bahwa petani tidak tinggal diam menunggu bantuan.
Di balik pembangunan sederhana itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar. Bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, melainkan juga soal infrastruktur pendukung yang sering kali diabaikan. Tanpa akses yang layak, hasil panen akan tetap terhambat, biaya distribusi membengkak, dan kesejahteraan petani semakin tergerus.
Kisah dari Sukaraja ini menjadi refleksi tajam bagi arah pembangunan. Bahwa di balik angka-angka produksi dan program strategis, ada suara petani yang kerap tak terdengar. Mereka tidak menuntut lebih—hanya akses yang layak agar bisa bekerja dengan aman dan hasilnya sampai ke pasar.
Kini, sambil terus membangun dengan kemampuan sendiri, para petani Sukaraja tetap membuka harapan. Bukan sekadar bantuan, tetapi perhatian yang berpihak. Sebab bagi mereka, ketahanan pangan sejati dimulai dari hal paling mendasar: jalan yang bisa dilalui, dan jembatan yang tidak lagi hanyut setiap kali hujan datang.
(Syrm / Tim)












Leave a Reply