RANAU TENGAH, OKU SELATAN 31/05/2026
Warna hijau mendominasi. Bukan hanya banner sepanjang panggung, tapi juga semangatnya. Muslimat Nahdlatul Ulama Kecamatan BPR Ranau Tengah memperingati Hari Lahir ke-80 dengan cara yang khas NU: khidmat, egaliter, dan membumi.

Acara digelar di Pondok Pesantren MTS Al-Anwar Simpang Sender, Minggu 31 Mei 2026. Backdrop raksasa bertuliskan “HARLAH MUSLIMAT NU KEC. BPR RANAU TENGAH KE-80” terpampang gagah. Di atasnya, logo NU mengapit tulisan Arab pegon. Di bawahnya, kalimat yang jadi napas gerakan: “merawat tradisi, menguatkan kemandirian, dan meneduhkan peradaban”.

Yang menarik, panggung Harlah ini menyatukan tokoh dari semua level. Bupati OKU Selatan Abusama, S.H. hadir langsung dan duduk lesehan di panggung utama bersama para kiai, tokoh NU, dan ibu-ibu Muslimat. Kehadiran orang nomor satu di OKU Selatan itu jadi penegas dukungan Pemkab terhadap gerakan perempuan NU.
“Pemkab OKU Selatan bangga dengan Muslimat NU. 80 tahun bukan waktu yang singkat. Ini bukti konsistensi ibu-ibu menjaga keluarga, tradisi, dan ekonomi desa,” ujar Bupati Abusama, S.H. di sela acara di Ponpes MTS Al-Anwar.
Di sisi kiri banner, wajah Abusama, S.H. dan Wakil Bupati H. Misnadi tersenyum. Di sisi kanan, ada Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. Di bawahnya, jajaran pimpinan Muslimat NU Sumsel dan OKU Selatan: Dra. Hj. Choiriya A. Malik Jajudin, Ny. Hj. Sumiyati, hingga Hj. Isyana Yuda Yanti.
Pesan itu jelas. Harlah di kecamatan ini bukan acara kecil. Ia terhubung langsung dengan gerakan nasional. Restu pimpinan pusat dan daerah hadir bersamaan.
Muslimat NU lahir 1946, di tengah revolusi. Kini di 2026, tantangannya beda: hoaks, krisis keluarga, hingga tekanan ekonomi.
Tema “merawat tradisi, menguatkan kemandirian, dan meneduhkan peradaban” menjawab itu semua. Merawat tradisi berarti majelis taklim tetap jalan, tahlil tetap hidup, silaturahmi tetap erat. Menguatkan kemandirian berarti koperasi ibu-ibu, UMKM, dan PAUD Muslimat harus naik kelas. Meneduhkan peradaban berarti Muslimat hadir sebagai penenang di tengah panasnya medsos dan politik.
Jangan remehkan ibu-ibu pengajian. Di OKU Selatan, banyak anggota Muslimat NU yang jadi motor ekonomi desa. Mereka jualan kemplang, bertani kopi, mengelola simpan pinjam, sampai jadi guru ngaji.
Khofifah Indar Parawansa sering bilang: “Kekuatan Muslimat NU ada di jamiyah dan jamaah”. Artinya, organisasi ini kuat karena punya struktur, tapi juga mengakar karena punya massa. BPR Ranau Tengah adalah buktinya.
Bupati Abusama, S.H. paham betul. Sinergi dengan Muslimat NU berarti menggandeng setengah populasi desa. Itu sebabnya Pemkab OKU Selatan selalu hadir di setiap agenda keumatan.
Harlah ke-80 ini jadi penanda. Muslimat NU tidak terjebak nostalgia. Mereka bicara stunting, ekonomi digital, sampai moderasi beragama. Tapi caranya tetap NU: duduk lesehan, santun, dan solutif.
Dari panggung di Ponpes MTS Al-Anwar Simpang Sender, 80 tahun Muslimat NU bergema: perempuan berdaya, keluarga kuat, bangsa beradab. Perayaan boleh di kecamatan, tapi dampaknya untuk peradaban.
Romy Batara 94














Leave a Reply