Lampung Selatan, 1 April 2026, Eternitynews.id- Media sosial dihebohkan dengan kabar terjadinya longsor di kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa, Rabu (01/04/2026). Peristiwa ini langsung memicu kekhawatiran masyarakat mengingat peran vital gunung tersebut sebagai pelindung alami permukiman warga serta jalur ekonomi strategis di ujung Sumatera.
Informasi awal mencuat dari unggahan akun Facebook “Bang Donie Reall” yang memuat laporan Ketua LPHD dan Pembina KUPS Leweng Kolot Sumur Kumbang. Berdasarkan data sementara, longsoran diperkirakan memiliki lebar sekitar 20 meter dan panjang mencapai 100 meter, dengan kemiringan tebing ekstrem antara 85 hingga 95 derajat.
Dalam video yang beredar, terlihat jelas perubahan signifikan pada struktur tebing. Area longsor tampak berwarna putih kekuningan dari kejauhan, menandakan terbukanya lapisan tanah dalam akibat pergeseran material dalam jumlah besar. Warga yang melakukan penelusuran langsung ke lokasi melaporkan adanya batu-batu besar yang berserakan di bagian bawah lereng.
“Warga Kalianda melakukan penelusuran langsung ke lokasi. Hasilnya menunjukkan tebing benar-benar longsor dengan material batu besar di bawahnya,” ujar suara dalam video yang kini viral di media sosial.
Menanggapi kejadian ini, para tokoh adat dan tokoh masyarakat di lereng Gunung Rajabasa bergerak cepat dengan menggelar musyawarah di Lamban Balak Marga Legun, Desa Kesugihan. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mengantisipasi serta mencari langkah penanganan agar tidak terjadi bencana yang lebih besar, seperti yang pernah terjadi di wilayah Aceh dan sekitarnya.
Peristiwa ini juga memancing reaksi luas dari masyarakat. Sejumlah warganet menyampaikan doa keselamatan, sekaligus kritik terhadap pengelolaan kawasan hutan lindung. Mereka menilai kerusakan lingkungan di kawasan Rajabasa dapat berdampak serius terhadap stabilitas wilayah Lampung sebagai penghubung utama antara Pulau Jawa dan Sumatera.
Gunung Rajabasa sendiri memiliki ketinggian sekitar 1.281 meter di atas permukaan laut dan tergolong gunung berapi aktif. Letaknya yang berdekatan dengan Teluk Lampung dan Selat Sunda membuat kondisi lerengnya sangat krusial dalam mencegah potensi bencana lanjutan seperti banjir bandang dan longsor susulan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan maupun Kementerian Kehutanan belum memberikan keterangan resmi terkait kejadian tersebut. Masyarakat berharap segera dilakukan langkah mitigasi, termasuk peninjauan teknis ke lokasi guna memastikan tingkat risiko terhadap desa-desa di sekitar kaki gunung.
(Syahrim)
















Leave a Reply