EternityNews

AKTUAL FAKTUAL EDUKATIF

Tabligh Akbar Bulanan Majelis Taklim se-Buana Pemaca Guncang Sinar Gunung, Dr. Lisna Mulipah: “Ibu Cerdas Lahirkan Generasi Emas

BUANA PEMACA, OKU SELATAN

Minggu pagi 26 April 2026 jadi hari yang tak biasa bagi Dusun Sinar Gunung, Desa Sinar Danau. Sejak matahari baru sepenggalah, jalanan dusun kecil di Kecamatan Buana Pemaca itu sudah ramai lautan jilbab. Ratusan ibu-ibu Majelis Taklim dari 12 desa se-Buana Pemaca tumpah ruah menghadiri Tabligh Akbar Bulanan yang tahun ini naik kelas jadi “reuni akbar” warga.

Lantunan shalawat dari pengeras suara berpadu Balita digendong, nenek dituntun, remaja putri sibuk selfie sebelum acara mulai. Semua menyatu dalam satu semangat: ngaji bareng.

Yang bikin acara kali ini beda adalah sosok penceramahnya. Panitia berhasil menghadirkan Dr. Lisna Mulipah, M.Pd., Gr., pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah Kepayang, Lempuing, OKI. Nama beliau sudah tak asing di kalangan ibu-ibu pengajian karena gaya ceramahnya yang renyah, dekat dengan keseharian emak-emak, tapi dalilnya kuat.

Begitu mobil beliau memasuki gapura dusun, jamaah langsung berdiri menyambut sambil bersalawat. “MasyaAllah, jauh-jauh dari OKI beliau mau datang ke dusun kami. Ini berkah luar biasa,” ucap Ibu/ibu warga Sinar Gunung yang ikut jadi panitia konsumsi.

Kepala Dusun Sinar Gunung, Puji Prastio, yang juga koordinator acara, tak bisa menyembunyikan bangga. “Ini kerja bareng. Bapak-bapak begadang pasang tenda dan sound. Ibu-ibu masak sejak subuh. Remaja bantu parkir dan dokumentasi. Murni swadaya, nggak pakai proposal ke mana-mana. Kalau niatnya lillahi ta’ala, Allah kasih jalan,” katanya sambil mengatur lalu lintas jamaah.

Asap mengepul sejak pukul 03.00 dini hari. Menu andalan khas menu desa disiapkan oleh ibu/ibu

Memasuki acara inti, Dr. Lisna Mulipah langsung “menghipnotis” jamaah dengan tema “Ibu Cerdas, Keluarga Hebat”.

“Zaman boleh canggih, anak pegang HP lebih pinter dari kita. Tapi ingat bu, yang pertama ngajarin anak ngomong ‘Allah’ itu siapa? Yang pertama ngenalin anak sama sajadah itu siapa? Kita, ibu-ibunya,” ujar beliau disambut takbir.

Cerita soal santri Nurul Hidayah yang bangun jam 3 pagi, setrika baju sendiri, dan hafal Qur’an sambil nyuci piring bikin banyak ibu-ibu meneteskan air mata. Tapi suasana cepat cair lagi ketika beliau nyeletuk, “Jadi ibu-ibu, kalau anak susah bangun subuh, coba bisikin: ‘Nak, bangun, kuota gratis’. Pasti langsung melek,” yang disambut gelak tawa satu lapangan.

Pesan kuncinya menohok: rumah harus jadi madrasah pertama. Ibu tidak boleh berhenti belajar. “Jangan mau kalah sama tontonan. Kita harus jadi tontonan terbaik buat anak di rumah,” tegasnya.

Para penjual makanan dan minuman Di pinggir lapangan, berjejer lapak “Alhamdulillah jualan saya habis sebelum pengajian mulai. Modal kumpul-kumpul, malah dapat untung,” kata Ibu Yuni, penjual makanan dari Desa sebelah sambil menunjukkan dompet yang menebal.

Kegiatan positif seperti ini harus kita jaga. Kami pemdes mendukung kalau tahun depan mau dibuat lebih besar lagi,ujar pak puji prastio

Acara ditutup pukul 11.30 WIB dengan doa bersama yang dipimpin langsung Dr. Lisna Mulipah. Isi doanya khusus untuk keberkahan warga Buana Pemaca, hasil tani yang melimpah, anak-anak saleh, dan OKU Selatan yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Sebelum pulang, jamaah tak lupa berfoto “Selamat Datang di Tabligh Akbar Sinar Gunung”. Wajah-wajah lelah tapi bahagia jadi penutup sempurna.

Puji Prastio menutup dengan kalimat yang bikin merinding: “Kami cuma dusun kecil di ujung OKU Selatan. Tapi kalau soal mengagungkan agama, kami nggak mau kalah. Dari Sinar Gunung, kami ingin sinarnya sampai ke mana-mana.”

Panitia berharap tahun depan bisa mengundang ulama tingkat nasional. Melihat semangat hari ini, bukan mustahil Tabligh Akbar Buana Pemaca bakal jadi agenda religi terbesar di OKU Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *