EternityNews

AKTUAL FAKTUAL EDUKATIF

FAJAR BARU TAHUN BARU ISLAM 1448 H, MEMBANGUN GOWA DENGAN JIWA NASIONALIS RELIGIUS

GOWA, 16 Juni 2026 – Momentum pergantian tahun baru Islam selalu membawa pesan perubahan yang mendalam. Menyambut fajar 1448 Hijriah, arah pembangunan Kabupaten Gowa kembali diingatkan untuk tidak sekadar mengejar kemajuan fisik, melainkan menyentuh akar spiritualitas dan kebangsaan melalui konsep pemerintahan berbasis Nasionalis Religius.

Secara filosofis, kepemimpinan di atas Butta Bersejarah dengan Puluhan Benteng Pertahanan di zaman peradaban Kerajaan Gowa adalah sebuah kain kehidupan yang harus ditenun dengan benang-benang kebajikan demi meraih rida Ilahi. Di sinilah nurani kita dipanggil untuk meresapi Pappasang Karaeng Pattingalloang yang sangat melegenda. Sang cendekiawan besar dan Tumabicara Butta Kerajaan Gowa-Tallo tersebut meninggalkan warisan berharga berupa “Lima Pammajenganna Matena Butta Lompoa”—lima petuah suci untuk mencegah runtuhnya sebuah negeri.

Beliau mengingatkan dengan tegas bahwa sebuah bangsa akan hancur jika pemimpinnya tuli dari nasihat, jika kaum cerdik cendekia dibungkam, jika hukum dipenuhi kasus yang merisaukan, jika para pejabatnya gemar menerima suap, dan jika kasih sayang kepada rakyat kecil telah hilang dari hati penguasa.

Pesan luhur ini adalah tamparan spiritual yang mengingatkan bahwa nasionalisme sejati harus dibangun di atas fondasi kejujuran intelektual, sementara nafas religius wajib mewujud dalam penegakan keadilan tanpa pandang bulu. Di sinilah nilai Amanah yang Kafah diletakkan; sebuah tekad agar kepemimpinan benar-benar hadir menjadi pelindung bagi yang lemah dan pembawa kemakmuran dari dataran rendah hingga ke pelosok dataran tinggi. Hal ini sejalan dengan tuntunan suci Al-Qur’an dalam Surat An-Nisa ayat 58:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil…”

Tahun Baru Islam adalah seruan agung untuk berhijrah dari kegelapan menuju cahaya, dari keserakahan pribadi menuju pengabdian yang tulus. Di dalam dada seorang pemimpin Gowa yang mewarisi ketegasan dan kecerdasan intelektual Karaeng Pattingalloang, ada debar cinta yang kuat untuk memakmurkan daerahnya tanpa melupakan syariat Ilahi.

Pemerintahan yang bernafaskan nilai spiritual ini tidak akan membiarkan rakyatnya menangis dalam kelaparan di tengah kemewahan istana. Setiap kebijakan yang lahir adalah bentuk ibadah, dan setiap keputusan yang diambil adalah langkah nyata untuk memeluk rakyat kecil dengan rasa keadilan yang penuh berkah.

Fajar 1448 Hijriah ini adalah lembaran putih yang masih bersih. Mari kita tuliskan kisah baru untuk Gowa tercinta dengan tinta emas kejujuran. Sebuah kisah indah tentang para pemimpin dan rakyat yang berjalan beriringan, dengan tangan yang memegang erat persatuan bangsa, dan hati yang selalu terpaut pada rida Tuhan Yang Maha Esa, agar cita-cita luhur daerah ini benar-benar mewujud dalam kedamaian yang abadi.

Di bawah kepakan sayap burung “Rewata” yang membelah langit, fajar 1448 Hijriah kini tegak berdiri di atas takdirnya. Angin malam yang berembus dari puncak Gunung Bawakaraeng seolah membawa kembali bisikan suci para leluhur, mengingatkan kita bahwa martabat Butta Kalompoang tidak dibentuk oleh megahnya singgasana, melainkan oleh tegaknya keadilan di hati sanubari.

Maka, dari batas riak muara Jeneberang hingga ke hijau daun di puncak Malino, mari kita kukuhkan barisan. Kita jaga marwah butta bersejarah dengan menyatukan derap langkah nasionalisme dan tasbih religiusitas dalam satu tarikan nafas. Biarlah falsafah Siri’ na Pace menjaga jiwa kita agar tetap malu berbuat nista dan selalu pilu melihat rakyat menderita. Bersama bergandengan tangan, di bawah rida Allah Yang Maha Rahman, mari kita bawa Gowa berhijrah menuju fajar baru yang gemilang; sebuah negeri yang makmur, adil, mabaji, dan penuh kebahagiaan karannuang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *